Tampilkan postingan dengan label pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pena. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Resensi Buku KABUT PENDIDIKAN DI INDONESIA

Cak Gopar

Oleh :Muhammad Arhami*


Pendidikan akan membentuk karakter dan pola pikir positif dari masyarakat dan siap dalam membangun kehidupan beragama,

Pungli di Sekolah

Cak Gopar
Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan berita pemecatan Kepala Sekolah di Bandung. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberi hukuman kepada 19 kepala sekolah di tingkat SD hingga SMA yang melakukan sejumlah pungutan liar (pungli) berdasar bukti yang bersumber pada komplain dari masyarakat.
Pemecatan ini merupakan tindak lanjut dari intruksi Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk menindak tegas segala bentuk pumungutan liar (pungli). Ramai di berita dan sosial media ada Walikota Jambi Syarif Fasha yang menyamar menjadi kernet tangkap anak buahnya, ada juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menemukan pungli ketika sidak ke Samsat. Anda bisa membayangkan bagaimana wajah mereka yang tertangkap basah oleh “bos” mereka itu sendiri.
Yang membuat kita geleng-geleng kepala, lembaga pendidikan seperti sekolah yang seharusnya menjadi gerda terdepan dalam praktik melahirkan generasi yang unggul, bersih dan teladan di masa depan juga melakukan hal yang tidak terpuji. Ini menjadi tamparan keras terhadap wajah pendidikan kita.
Pendidikan Kita
Pendidikan adalah sumber dasar yang membentuk pola pikir dan perilaku manusia. Dengan pendidikan manusia diajarkan untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.
Dari konsep pendidikan bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara, bahwasanya diharapkan dengan pendidikan nantinya manusia atau peserta didik memiliki kemampuan dalam pengendalian diri, kecerdasan, keterampilan dalam bermasayarakat, kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian serta akhlak mulia. Kemampuan yang menjadi dasar kekuatan diri dan pengenalan diri agar memaksimalkan potensi serta menjalankan peran sebagai agen of change.
Pemerintah saat ini tengah berusaha meningkatkan kesejahteraan guru melalui beberapa program diantaranya sertifikas guru, meski masih banyak juga guru honorer di daerah yang pendapatannya tidak layak. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah dalam megoptimalkan alokasi dana pendidikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 yang mencapai Rp. 419,2 triliun atau sesuai dengan amanat UU yaitu 20 persen dari total belanja negara.
Peranan Teknologi
Teknologi dalam dunia pendidikan digunakan untuk membantu dalam manajemen adimistrasi, manajemen data dan kegiatan akademik. Manajemen administrasi berkaitan dengan proses pendataan peserta didik dan kepegawaian dan segala hal yang berhubungan dengan human resource development. Manajemen data berkaitan dengan pengolahan semua data baik itu data administrasi, data akademik maupun data penting lainya agar menjadi informasi yang berguna.
Sedangkan kegiatan akademik berkaitan dengan proses pembelajaran dan pertukaran informasi materi pengajaran. Tiga wilayah yang berada dalam dunia pendidikan akan berjalan dengan baik dan efisien apabila dibantu oleh teknologi agar setiap pihak fokus pada tanggung jawabnya masing-masing dengan bantuan teknologi tersebut.
Kaitannya dengan upaya meminamilisir pungli di sekolah, pemerintah sebaiknya mulai memanfaatkan peran teknologi. Dengan pemanfaatan teknologi ini maka akan mengurangi kesempatan negatif dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ingat kata bang Napi “kesempatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah… waspadalah!”.
Dengan pemanfaatan teknologi, maka bantuan pemerintah, penyaluran sarana prasaran, buku, penyaluran dana BOS, dan seterusnya akan terpantau dengan jelas, sehingga jika sistem sudah berjalan maka tidak perlu lagi mendatangi sekolah satu persatu, bisa dibayangkan kalau harus sidak ke sekolah satu persatu di seluruh Indonesia. Tidak akan efektif!
Lebih jauh, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari pada mengurus hal yang remeh temeh seperti “full day school” memang sudah seharusnya mengerahkan tenaganya pada peningkatan kualitas mutu sekolah dengan optimalisasi peran teknologi.
Penulis cukup senang dengan adanya sebuah inovasi karya anak bangsa seperti Schoolmedia. Schoolmedia merupakan web aplikasi untuk membantu manajemen sekolah. Schoolmedia secara khusus mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan sekolah. Salah satu fiturnya adalah aplikasi manajemen sekolah yang dapat membantu dan memanjakan sekolah agar dapat meningkatkan konten belajar siswa, kompetensi guru, efisiensi Sumber Daya Manusia (SDM), dan menghemat infrastuktur Teknologi Informasi Komputer (TIK) sekolah.
Website dan aplikasi schoolmedia dikembangkan dengan memperhatikan umpan balik dari pengguna. Fitur-fitur dikembangkan sesuai tuntutan dan kebutuhan user. Fitur-fitur yang sudah berjalan dan dikembangkan seperti PPDB Online, Social Network, e-raport, User organization, News, Q&A, E-learning Schoolmedia, Sistem Akademik (SIKAD), perpustakaan, Bimbingan Konseling, Educational Games, yang bisa dimanfaatkan oleh sekolah serta ada fitur khusus bagi Kepala Dinas, Walikota atau Bupati untuk memantau keadaan di setiap sekolah seperti keadaan guru, siswa, sarana dan prasarana sekolah hingga transparansi keuangan.
Dalam fitur Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online misalnya. Ini akan meminimalisir praktik kecurangan dan korupsi di sekolah karena semua terpantau oleh sistem secara transparan. Dengan fitur ini setiap siswa dapat mendaftar secara online di 3 Sekolah yang diinginkan, kemudian siswa dapat memantau progres naik turun peringkatnya (secara online) di sekolah yang ditargetkan.
Ketika siswa terpental dari salah satu sekolah yang diinginkan maka siswa dapat memilih sekolah lain kembali (tetap 3 pilihan sekolah). Masing-masing pendaftar dapat memantau dengan akunnya masing-masing yang didapat ketika registrasi. Nilai keseluruhan terpampang sehingga antar peserta bisa saling memonitor. Pada jam 00.00 sesuai dengan tangal yang telah ditentukan semua pendaftar sudah mengetahui hasil diterima di sekolah mana cukup dengan menggunakan web aplikasi Schoolmedia dengan smartphone. Denggan demikian penerimaan siswa baru akan transparan, adil dan sekolah tidak mungkin berani melakukan kecurangan.
Belajar dari Australia
Di negara-negara maju peranan teknologi sudah menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari pembelajaran di sekolah. Seperti hal nya di Australia yang kualitas pendidikannya sudah sangat maju. Beberapa waktu lalu saat penulis berkunjung ke Australia dalam kegiatan yang bertemakan Taking business to the next level – A course for leaders, entrepreneurs and innovators of technology-enabled start-ups yang diselenggarakan oleh Australia Awards. Selama short-course dua minggu berlokasi di Canberra, Adelaide, Sydney, Brisbane meliputi kunjungan ke beberapa lokasi strategis untuk memperoleh tolak ukur/acuan dan peluang membangun hubungan, pertemuan dan kunjungan lapangan. Kunjungan lapangan ke lemabaga pendidikan seperti universitas dan sekolah, asosiasi bisnis, start-up Australia yang sukses, Himpunan Masyarakat Wirausaha Australia (Australian Society of Entrepreneurs), Austrade, Dewan Bisnis Australia Indonesia (Australia Indonesia Business Council), pusat nirlaba seperti Stone & Chalk, inkubator usaha, dan jejaring yang relevan.
Salah satu sekolah yang penulis kunjungi adalah Australian Science and Mathematics School (ASMS) di kota Adelaide. Konsep dari sekolah negeri tersebut yaitu menjadikan sekolah bagian dari kehidupan anak didik untuk belajar “real life” dan optimalisasi peranan teknologi sehingga mereka betah berlama-lama berada di sekolah bukan sebaliknya anak bersorak gembira ketika guru tidak masuk kelas.
Begitu pula dengan sistem dalam manajerialnya yang sudah berbasis teknologi, sehingga transparansi bantuan, pelaporan keuangan dan lain-lain sudah sistematis. Tentu ini membutuhkan komitmen bersama untuk memberantas pungutan liar. Pada akhirnya kepala sekolah bisa fokus meningkatkan kualitas sekolahnya, guru fokus mengajar dan siswa benar-benar nyaman belajar. Tidak ada yang sibuk mencari “uang panas” untuk masuk kantong sendiri.
*tulisan ini juga dimuat di : http://www.pojoksamber.com/pungli-di-sekolah/

Pendidikan dan Panggung Politik

Cak Gopar

TIMBUL pertanyaan di benak kita, “apakah para koruptor itu, dulu pernah mengenyam penidikan di bangku sekolah?”, Jika ya, lalu apakah itu berarti sekolah gagal menciptakan manusia-manusia

Jane, Syal, dan Waktu Itu

Cak Gopar
HAL unik yang saya temukan saat perjalanan dari bandara Ataturk Airport Istanbul ke bandara Adnan Menderes Airport di Kota Izmir sore itu dan bertemu dengan Mrs. Jane.
Jane duduk persis di samping saya, bersebelahan dengan suaminya. Dan saya yang datang lebih awal duduk di lokasi favorit dekat jendela. Entah mengapa dari sekian penerbangan saya tak pernah bosan memilih lokasi tersebut. Bahkan pernah request saat check in maupun request ke penumpang lain. Seperti yang kembali saya lakukan kepada Jane. Nomor tempat duduk saya 27e dan seharusnya ada di tengah.
Sejak pertama melihat Jane dan suaminya saya menduga mereka bukan warga asli Turki. Percakapan kami dimulai ketika Jane melanjutkan rajutan syal di tangannya. Warna syal itu hijau. Sementara suami Jane sibuk membaca tulisan di minipad-nya dan saya membaca majalah yang diselipkan di depan tempat duduk. Pramugari Turkish Airlines menawari kami paket snack dan minuman. Jane pun dengan ringan tangan mengulurkan paketku. Sembari menikmati snack dan minuman, saya rasa ini saat yang tepat membuka obrolan.
"Hi, Anda dari mana?"
"Saya dari USA, kamu?"
"Saya dari Indonesia."
Percakapan basa basi pun berlanjut mulai dari tujuan wisata, pekerjaan, dan seterusnya.
"Bagus sekali syal yang Anda buat, berapa lama menyelesaikannya?"
"Saya biasa menyelesaikan ini sekitar 30 jam, biasa saya kerjakan sembari menanti sesuatu seperti waktu tunggu take off pesawat sekarang. Ketimbang diam, tentu sayang waktu terbuang percuma."
Ucapan Jane meninju ulu hati saya yang masih sering buang-buang waktu, baik ketika tak ada tugas, ujian, libur, di dalam bus, tram. Saya meminta izin untuk mengambil gambar Jane sebagai kenang-kenangan, "apakah boleh saya mengambil gambar Anda? Sungguh aktivitas Anda sangat menginspirasi saya."
Jane dengan senang hati mengizinkan. Sebelum meninggalkan pesawat Jane memperkenalkan suaminya yang akhirnya saya baru tahu bernama Andreas. Thanks Jane and Andreas!

Sabtu, 30 Januari 2016

Endonezya’da seyahatler (Prof. Ergun Yildirim)

Unknown

Pada akhir Desember 2015, kami (Indonesia) kedatangan tamu kehormatan dari Turki yaitu: Prof. Ergun YILDIRIM (Dekan Fakultas Komunikasi, Marmara University Istanbul Turkey); Dr. Halit BEKIROGLU (Direktur Alumni Sekolah Islam Turki Imam Hatip ONDER); Dr. Fatih SERENLI (ONDER); Ahmet KAAN  (ONDER); Prof. Sevki AYDIN (Mufti Turki).

Beberapa hari di Indonesia Prof. Ergun menulis sebuah kolom khusus yg beliau beri judul "Endonezya’da seyahatler", artinya "Perjalanan di Indonesia". Merasa se-su-a-tu juga karena guyonan kami beliau tulis "yine Budy Sugandi bana yoldaşlık yapıyorlar. Budy'ye “adın Mehmet Gandi olsun, İstanbul'dan sana hatıra kalsın” diyorum. İtiraz etmiyor, artık onu bu adla çağırıyorum. Matematik felsefesi üzerine doktora yapmak istiyor".

***

Endonezya’da seyahatler



04:00 Aralık 20, 2015

Dünya hakikaten küçük! Hem boyutları, hem ilişkileri, hem de kapsadığı tarihin sınırlılığı açısından. Üç uçuştan sonra Türkiye'nin dünyadaki en doğusuna, yani Endonezya'da bir kente ulaştık. Bu seyahate beni davet eden doktora öğrencim Muhamad Syauqillah ile beraber Islam Devlet Üniversitesi (IAIN) Raden Intan Lampung'a geldik. Lampung, muhteşem bir şehir. Turkuaz renkli denizi, etrafını çevreleyen yemyeşil dağları, evleri kanatları altına alan ağaçları ve gülümseyen insanlarıyla insanı hemen muhabbetine çekiyor. İlk gün kenti geziyoruz, sahiline gidiyoruz, yüzüyoruz. İkinci gün üniversitede konuşma yapıyorum. Bu üniversitenin benzerleri 75 taneymiş, hepsi de Din Bakanlığı'na bağlı. İslam konseptinde eğitim veren yüksek öğretim kurumları bunlar. Klasik İslami ilimleri yanında İslam ekonomisi ve iletişim fakültesi gibi yeni birimleri de var. Burada Türkiye ve Endonezya toplumlarını karşılaştıran konuşmalar yapıyoruz. Ben demokrasi, din ve modernleşmeyi anlatıyorum. Programın açılışı, sunumu ve pratiği adeta Endonezya'yı anlatıyor. Gelenek, modernlik ve İslam'ın beraberliği…Önce Kur'an okunuyor, sonra milli marş, arkasından üniversitenin bayan öğrencileri tarafından gerçekleştirilen geleneksel folklor gösterisi yapılıyor. Panelde Türkiye ile ilgili bir çok soru yöneltiliyor bana. Osmanlı'dan Cumhuriyete geçerken yaşanan kırılmalara dikkat çeken sorular geliyor. Üniversitenin hocaları ve öğrencileriyle tanışıyoruz. Rektörle sohbet ediyoruz, “Erdoğan'la gurur duyuyoruz” diyor.

Üçüncü gün yeniden Jakarta'ya uçuyoruz. Bu defa kentin en iyi özel üniversitelerinden birindeyiz. Muhamad Syauqillah ve yine Budy Sugandi bana yoldaşlık yapıyorlar. Budy'ye “adın Mehmet Gandi olsun, İstanbul'dan sana hatıra kalsın” diyorum. İtiraz etmiyor, artık onu bu adla çağırıyorum. Matematik felsefesi üzerine doktora yapmak istiyor. Öğrencim Muhamad Syauqillahi'nin eşi Juwarti Hafsah, Mercubuana Üniversitesi'nde genç bir akademisyen. Bu defa burada IŞİD'e karşı Müslüman kimliğin inşasını medya açısından değerlendiren bir konuşma yapıyorum panelde. Onlar benden böyle bir sunum istedi. Diğer panelist arkadaşım Endonezya'nın en ünlü TV'sinde program yapan bir gazeteci. O da IŞİD ile ilgili çok önemli datalar sunuyor. Dekan da yardımcısı da okullarına gelmem onuruna bana şiir adayarak konuşmalarına başlıyorlar. Onlar da hala konuşmaya şiirle başlama geleneği devam ediyor. Özellikle dekan yardımcısının İstanbul ile ilgili yazdığı şiir olağanüstü. Ben de onlara, “İstanbul asırlarca hilafetin merkeziydi. Bütün Müslümanların olduğu gibi sizin de başkentinizdi. Şimdi yine sizin şehriniz” diye cevap veriyorum.

Dördüncü gün erken saatlerde Endonezya'nın başka büyük şehri olan Kudüs'e uçuyoruz. Burada, İslam devlet enstetüsünde (STAIN Kudus) konuşma yapacağım. Bu defa “Üç Teoloji, Üç Sosyoloji (yani selefizm, vehhabizm ve cihadizm) başlıklı konuşmayı önerdim. Çoğunluğunu üniversite hocalarından oluşan bir salonda bu üç akımı konuşuyorum. Arkasından sorular geliyor. Bu defa soruların çoğu Türkiye ve Türkiye'nin bölgesel durumuyla ilgili. Türkiye'nin uluslar arası koalisyona dahil olması, Kuzey Irak'a asker göndermesi, yeni askeri koalisyonda yer alması…

Üniversitedeki konuşmadan sonra Nahdatul Ulemanın medreselerini ve mescitlerini geziyoruz. Nahdatul Ulema, 1928 yılında kurulmuş ve Endonezya'nın bağımsızlığında büyük rol oynamış bir hareket. Daha sonra kendisini tümüyle eğitime adamış. Ülkede en büyük İslami grup, 70 milyon üyesi var. Medreseleri, İmam Hatip Liselerini andırıyor. Öğrenciler yatılı eğitim görüyor. Sadece bu şehirde 150 tane medresesi var. Hocaları ve yöneticileri hiç de Türkiye'ye yabancı değiller. Çok sıcak karşılıyorlar bizleri.
Endonezya, büyük bir Müslüman ülke, 250 milyon nüfusa sahip. Toplumsal hayatta İslam'ın görüntüsü hakim. Türkiye gibi gelenekle, demokrasiyle ve modernlikle barışık bir Müslümanlık anlayışı egemen toplumda. Devlet politikaları da ağırlıklı olarak bu yaklaşımı benimsiyor. Bu açıdan İslam dünyasının yeni açılımları için Türkiye ile beraber bir çok projeyi gerçekleştirme potansiyeli taşıyor.

İki gün sonra Türkiye ve Endonezya karşılaştırmalı eğitim sempozyumuna katılacağız. Ben de tebliğ sunacağım. Yeşil ve gülümseyen bir ülkede olmak güzel!

Sabtu, 21 Februari 2015

Mari terus budayakan diskusi

Unknown

Sejenak saya melihat perjalanan kebelakang, tidak sedikit organisasi atau lebih tepatnya komunitas yang di dalamnya banyak disibukkan dalam aktivitas tukar pikiran bahkan tak jarang terjadi “perkelahian” berupa perdebatan logis, memiliki dasar dan disampaikan dengan cara yang baik. Namun perkelahian itu berakhir seiring dengan selesainya diskusi. Kemudian kita bisa memilih meminum kopi bersama sambil berkelakar dengan humor pilihan masing-masing. Asik kan?

Saat usia remaja –sekitar SMA kelas 2– saya diajak teman tetangga rumah untuk mengikuti perkumpulan remaja kampung, tepatnya kompleks perumahan. Lumayan bisa makan gratis, dapat teman-teman baru, kalau beruntung bisa berkenalan dengan kembang desa. Pikirku. Wkwkw…

Tak tik tak tik tuk…

Sekitar lima kali mengikuti perkumpulan tersebut, saya merasa bosan. Hanya ada pembacaan yasin, arisan, makan-makan dan pulang. Tentu saja sebagai seorang Muslim saya senang dengan acara perkumpulan yang di dalamnya ada aktivitas pembacaan ayat suci Al-Qur’an namun alangkah lebih baiknya jika ada kegiatan tambahan yang lebih “nyetrum”. Unek-unek pun saya sampaikan kepada ketua. Mungkin saran itu hanya menjadi angin lalu yang benar-benar berlalu. Saya rasa komunitas baru yang benar-benar bisa menjadi wadah remaja dan segarnya pemikiran pemuda harus dibentuk. Komunitas yang mampu menghadapi perubahan masyarakat seperti yang dituliskan Erickson dalam buku Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (FIP UPI, 2009): karena lingkungan manusia senantiasa mengalami perkembangan maka upaya menciptakan budaya belajar pada suatu masyarakat selain harus mengikuti perubahan dan sekaligus menyesuaikan perubahan itu dengan sistem nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan, agar modifikasi budaya belajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Akhirnya beberapa kawan diantaranya Buyung, Malik, Reza dan saya sepakat membentuk yang namanya “Organisasi Remaja Masjid Darussalam (ORMASDA)”. Sebuah organisasi remajadengan markas pusat di Masjid Darussalam, salah satu masjid di kompleks perumahan kami tinggal. Entahlah, ini disebut organisasi tandingan atau bukan, kami tidak terlalu menghiraukannya, yang jelas idealisme kami hanya satu yaitu untuk menghidupkan daya kritis masa remaja, masa ideal untuk mengukir prestasi. Kalau kata pak Haji Rhoma: masa muda masa yang berapi-api… Goyang mang, Tssaah…. Kegiatan demi kegiatan pun kami buat, mulai dari diskusi rutin, mengadakan bimbingan belajar, try out bagi siswa yang hendak ujian nasional, pentas seni, fashion show, dan membantu hajatan masyarakat jika dibutuhkan. Yah, tentu saja roda organisasi ini berputar dengan segala kekurangannya. Maklum lah anak SMA, yang minim pengalaman.

Tak tik tak tik tuk…

Tahun 2006, saya harus meninggalkan kampung halaman tercinta Pamekasan pindah ke Jogjakarta. Jogjakarta? Siapa yang tak kenal kota ini, banyak istilah yang dilontarkan untuk kota ini seperti kota pelajar, kota seni, kota gudek dan tidak sedikit pahlawan Nasional yang berasal dari kota ini sebut saja Ki Hadjar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, dr. Wahidin Soedirohoesodo, Sri Sultan Hamengkubuwono, Pangeran Diponegoro. Dan termasuk orang-orang yang sukses setelah belajar di Jogja meskipun terlahir di luar Jogja seperti Cak Nun (lahir di Jombang), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (lahir di Pangandaran) yang sangat nyentrik itu kan beliau pernah sekolah di SMAN 1 Yogyakarta meskipun tak sampai lulus.

Saya merasa beruntung pernah mengenyam pendidikan di UIN Sunan Kalijaga dan UGM. Banyak kawan-kawan sebaya yang saya kagumi. Mereka muda, seumuran dengan saya, namun mereka sudah berada di atas panggung, berorasi dengan berapi-api bak tokoh favoritku Soekarno; jago menulis; jago bernegosiasi; ada juga yang punya kreativitas dahsyat, mampu menyelenggarakan event besar hingga pelatihan, ada lagi yang jago memimpin organisasi; ada lagi, ada lagi, dan ada lagi…. Yah terus begitu, karena saya yang harus belajar banyak dari mereka.

Tak tik tak tik tuk…

Dengan beberapa pertimbangan, saya pun memilih beberapa organisasi –formal maupun non-formal– dengan satu syarat, kegiatan di luar kampus tidak boleh mengganggu kegiatan utama yaitu kegiatan di kampus. UKM Karate Inkai, Majlugha, Source of Inspiration Club (SIC), Gadjah Mada Mengajar (GMM), Komunitas Madura di Jogja menjadi pilihanku dalam menaung. Tentu saja setiap organisasi memiliki fokus masing-masing, ada yang fokus dalam berdiskusi, pengajaran, pelatihan, menulis, sosial dan latihan fisik. Yang pasti semuanya memberikan atmosfir bahwa pemuda haruslah terus bergerak, menginspirasi, berwawasan dan bertanggung jawab.

Tahun 2011 saya mendapat kesempatan studi ke Turki, sekitar satu tahun saya habiskan bersama teman-teman Indonesia lainnya di kota Samsun. Setelah berhasil membentuk wadah PPI Samsun yang saat itu bung Bayu (Bayu Meta Erdoğan, nama fb nya, sampai saat ini saya tidak tahu nama lengkapnya. He…) kami pilih sebagai ketua. Kami mengadakan diskusi rutin setiap 2 pekanan. Saat itu kebetulan saya yang menjadi koordinator diskusi. Diskusinya santai dan ringan, semua anggota harus menyampaikan materi dengan cara dijadwal bergilir. Materi yang disampaikanpun bebas, bisa tentang bidang studi yang ditempuh bahkan hobi seperti teknik bermain sepak bola, yang penting tak sekedar kumpul-kumpul kosong, namun ada “sesuatu” yang bisa dibawa, direnungkan dan dipikirkan setelah berpisah. Bukanlah 
sesuatu yang berat untuk menghandle kegiatan seperti ini, lebih-lebih saat itu jumlah kami tidak lebih dari 25 orang.

Tak tik tak tik tuk…

Oktober 2013, saat mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar ke Jerman, di Technische Universitat Braunschweig, seperti biasa, sama halnya dengan makan rujak tanpa sambal itu rasanya ada yang kurang. Bergabunglah saya bersama para pelajar Internasional lainnya dalam wadah “Gauss Friends-International Kreis der Gauß Freunde e.V. –konon pemberian nama Gauss ini untuk mengenang pemikir besar Carl Friedrich Gauss yang terlahir di kota Braunschweig. Setiap dua minggu sekali kami bertemu, mendengarkan presentasi dari orang yang sudah terjadwal dan berdiskusi. Juga senang sekali pernah menghadiri seminar yang diadakan oleh Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI), saat itu Presidennya Mas Adam Pamma, dari pertemuan singkat kami, saya mengenal beliau sebagai orang Sulawesi yang berwawasan luas, sederhana dan ramah.

Saat ini saya sedang menghabiskan masa-masa akhir studi di Turki sambil melihat dinamika organisasi yang semakin giat ngadain acara. Saya tidak terlalu memperhatikan seberapa banyak komunitas yang mewadahi para Mahasiswa untuk berkumpul dan berdiskusi, menurut saya semakin banyak komunitas yang positif, itu semakin baik. Hal yang perlu diperhatikan adalah komunikasi antar komunitas, salah satu caranya mungkin dengan membentuk forum ketua antar komunitas minimal di setiap kota, agar jadwal diskusi tidak ada yang bentur bahkan bisa bekerja sama, toh tujuannya berkumpul bersama meskipun dengan pola pikir yang beragam. Lebih-lebih bisa bekerja sama dengan pihak KBRI Ankara atau KJRI Istanbul. Tentu sangat baik sekali. Lumayan kan dapat bantuan konsumsi atau info tokoh-tokoh hebat Indonesia yang sedang berkunjung atau liburan ke Turki karena biasanya mereka akan berkomunikasi dengan pihak KBRI atau KJRI sebelum pergi.

Tak tik tak tik tuk…

Bisa berdiskusi bersama teman-teman dengan latar belakang keilmuan yang beragam, ada yang belajar sejarah, sastra, ilmu teknik, sosiologi dan seterusnya, secara gratis itu suatu hal yang luar biasa. Diskusi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan diri, memperkaya perspektif dan mengembangkan jaringan. Meminjam istilah Skinner dan Watson bahwa manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya.

Akhirnya, sebelum saya mengakhiri tulisan ini izinkanlah secara pribadi saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada RUHUM yang beberapa hari lalu merayakan ulang tahun ke-2 nya dan GIA yang kemarin (10/2) merayakan ulang tahun yang ke-3 dengan menghadirkan pembicara spesial Ary Ginanjar. Mari terus budayakan diskusi!

(Pernah dimuat di Cakrawala RUHUM)

@budysugandi

Kurikulum untuk Siswa

Unknown
Setelah membaca tulisan bung Junaidi Abdul Munif Kurikulum untuk Siapa? di kolom Tempo (10/12/2014) saya tergoda untuk memberikan sanggahan atau lebih tepatnya berdiskusi lebih lanjut. Hal ini biasa dalam dunia keilmuan, asal disampaikan dengan baik dan argumentasi yang mendasar.
Melalui tulisan itu bung Junaidi sudah tepat dalam merumuskan bagaimana konsep kurikulum sebagaimana yang dituliskan dalam kalimat penutup yaitu "Merumuskan konsep kurikulum pada akhirnya harus berpijak pada konsep kita dalam memandang anak-anak itu sendiri, apakah anak-anak merupakan obyek sang guru atau rekan sang guru."
Namun dalam tulisan tersebut bung Junaidi masih samar-samar alias "rikuh" ketika memberikan perspektif apakah Kurikulum 2013 (K-13) harus lanjut, berhenti total atau berhenti bersyarat. Sama halnya dengan pernyataan dia yang menilai sikap Menteri Anies dalam hal keputusan untuk menghentikan K-13, "Menteri Anies tampaknya "rikuh" jika harus menghentikan total K-13 dan mengumumkan kembalinya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006."
Selain itu pendapat dia bahwa penerapan kurikulum dengan beberapa model bisa diterapkan secara bersamaan, perubahan KTSP ke K-13 tidak banyak serta pengambilan keputusan bahwa kurikulum mana yang lebih baik bisa dilihat ketika keduanya telah selesai diterapkan sebagaimana yang ditulis "Mungkin bisa diterapkan beberapa model kurikulum sekaligus dalam sistem pendidikan nasional melalui payung hukum. Saya rasa, perubahan pada KTSP dan K-13 tidak banyak. Keduanya hanya menyempurnakan apa yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian, akan teruji dengan sendirinya mana kurikulum yang bagus", merupakan pendapat yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Mengapa saya katakan tidak bisa dipertanggung jawabkan? Pertama, penerapan kurikulum dengan beberapa model secara bersamaan ini tidak mendasar. Penerapan seperti ini hanya akan berimplikasi negatif terhadap aspek sosial kebudayaan baik antar siswa, antar sekolah hingga antar masyarakat. Ini juga kritik terhadap Kemendikbud, bagaimana mungkin masih memberikan nafas 6.221 sekolah untuk menerapkan K-13, sedang kurikulum tersebut jelas-jelas mengalami masalah dalam hal konseptual dan substansial?.
Kedua, apakah benar perubahan KTSP ke K-13 tidak banyak? Memang benar bahwa tujuan dari kurikulum yang baru sebagai penyempurna kurikulum sebelumnya. Adanya perubahan kurikulum wajar terjadi akibat tuntutan perkembangan zaman dan tantangan global. Ketika berbicara mengenai kurikulum, kita tidak bisa mengukur kurikulum hanya dengan melihat dari tujuan dirubahnya kurikulum tersebut namun harus dilihat secara menyeluruh mulai dari konsep kurikulum, bahan ajar, fasilitas pendukung hingga kesiapan pengajar (guru). Analisis  dari bedah buku dan silabus kurikulum 2013 menunjukkan fakta mengejutkan bahwa buku dibuat sebelum ada silabus (Doni Koesoma A, Media Indonesia, 8/12/2012). Bagaimana mungkin orang bisa berenang di kolam yang kosong (tidak ada air)?
Yang ketiga, cara pengambilan keputusan bahwa kurikulum mana yang lebih baik bisa dilihat ketika keduanya telah selesai diterapkan. Cara seperti ini sangat kontradiksi dengan substansi kurikulum yang disampaikan oleh bung Junaidi yaitu siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered learning). Kalimat yang dimaksud adalah “membentuk siswa yang aktif, entah itu bertanya, mengamati, menalar, ataupun mencipta, seperti halnya yang diusung K-13”. Ketika mempersilahkan kurikulum terus berjalan tanpa melalui prosedur yang benar ini hanya akan menjadikan siswa sebagai kelinci percobaan. Jangan sampai ketidak cermatan dalam menerapkan kebijakan kurikulum menjadikan siswa: maju selangkah mundur selangkah, apalagi maju selangkah mundur dua langkah hingga tiga langkah.

(Pernah dimuat di Koran Editor)
@budysugandi

Jumat, 25 Juli 2014

Laporan Studi Banding AIPI Ke Turki

Unknown

LAPORAN STUDI BANDING KE TURKI
Tanggal  23 – 27 Juni 2014
Komisi Kebudayaan AIPI telah melakukan studi banding ke Turki dengan tema: Mengenal Budaya Islam Sebagai Budaya Damai Dan Cinta Keragaman: Belajar DariPengalaman Turki. Perjalanan studi banding ini dilaksanakan pada tanggal 23-27 Juni 2014 dipimpin oleh Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno, disertai dua anggota Komisi Kebudayaan lainnya, Prof. Dr. M. Amin Abdullah dan Prof. Dr. Musdah Mulia serta Ichfa Nursanti, asisten profesional Komisi Kebudayaan. Meskipun waktu kunjungan relatif sangat singkat, yaitu 4 hari: dua hari di Istanbul dan dua hari di Ankara, namun kegiatan kami sangat padat. Kami berhasil mengunjungi 5 institusi penting, yaitu Fakuktas Ilahiyyat, Universitas Marmara dan Fatih College (Istanbul) serta Presidency of Religious Affairs: Directorate of Foreign Relations dan Directorate of Educational Services, Turkiye Diyanet Vakfi, dan Fakultas Ilahiyyat, Universitas Ankara (Ankara). Namun sangat disayangkan kami tidak bertemu denganpara anggota dari TUBA (Turkey Academic of Science) sebagaimana yang dianjurkan oleh TUBA sendiri yaitu Prof. Dr. Ismail Kara dan Prof. Dr. Ilhan Kutluer yang adalah Guru Besar di fakultas Ilahiyyat, Universitas Marmara, kabarnya mereka sedang berada diluar kota. Disamping itu kami pun tidak sempat berkunjung ke kantor TUBA di Ankara, karena selain terbatasnya waktu dan padatnya acara kami, juga karena TUBA sendiri tidak mengundang untuk berkunjung disebabkan tidak ada pejabat berwenang disana.
Mengapa Turki? Karena bagi kami, Indonesia sangat mirip dengan Turki. Walaupun mayoritas penduduknya beragama Islam, Turki mempresentasikan diri bukan sebagai negara Islam, seperti halnya Pakistan dan Iran, melainkan sebagai negara demokrasi sekuler. Kami jugamenggali informasi untuk mengetahui bagaimana budaya Islam digunakan dalam pengembangan peran perempuan dalam masyarakat Turki yang modern sehingga amat berbeda dengan masyarakat Islam lain di negara-negara Arab, khususnya di kawasan Middle East.
Kegiatan studi banding ini dilakukan dengan mengunjungi lembaga-lembaga ilmu pengetahuan yang konsen pada pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya keislaman serta juga melakukan diskusi dengan sejumlah pakar atau ilmuwan yang menekuni bidang ini di Turki. 

Ilahiyat Fakultesi, Marmara Universitesi
Dimulai dengan kunjungan ke Universitas Marmara di wilayah Uskudar, Istanbul.Universitas ini merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Turki, berdiri tahun 1883. Di sini kami diterima langsung oleh Prof. Dr. Ali Kose, dekan Fakultas Teologi (Ilahiyat Fakultesi) Universitas Marmara. Kami diterima dengan ramah dan sangat hangat, beliau didampingi empat orang dosen senior di Universitas tersebut. Bahkan, kami juga dijamu makan siang dan dipinjamkan mobil dinas Universitas baik ketika datang maupun kembali.

Bersama Dekan Fakultas Ilahiyat, Univ. Marmara Turki dan para dosen senior

Perbincangan kami dengan para petinggi Universitas ini menjelaskan bahwa Universitas Marmara terdiri atas 3 jurusan, yaitu Jurusan Agama dan Sejarah; Jurusan Agama dan Filsafat; dan Jurusan Agama dan Pengetahuan Seni dan Budaya. Dekan dan para dosen senior Universitas Marmara menekankan bahwa pihaknya sangat mementingkan agar mahasiswa yang belajar di Fakultas Ilahiyat ini mengerti agama Islam secara konprehensif. Hal itu penting agar mereka memiliki pengetahuan dan wawasan mendalam dan terbuka mengenai agama. Itulah sebabnya, agama harus diajarkan dalam berbagai aspeknya, antara lain melihat agama dalam aspek sejarah agar mereka mengerti agama bukan hanya dari perspektif tekstual belaka, melainkan juga pahamakan perspektif sosio-historis dan sosio-politisnya. Aspek lain yang penting adalah filsafat, seni dan budaya. Seni yang dimaksudkan di sini cukup luas, termasuk seni arsitektur, seni pertunjukan dan seni lukis. Dengan ungkapan lain, diharapkan mahasiswa mengerti Islam, baik secara tekstual maupun kontekstualnya. Kesimpulannya, berbagai jurusan dalam Fakultas Ilahiyat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengapresiasi nilai-nilai humanis dan kompatibel dengan prinsip-proinsip ilmu pengetahuan dan teknologi modern.


Suasana diskusi di ruang dekan Fakultas Ilahiyat, santai dan hangat



Fatih Koleji
Berfoto di depan Fatih Koleji, Istanbul bersama Muhammad Fatih
         
            Kedua, kunjungan ke Fatih Koleji (Fatih College). Sekolah ini milik swasta dan mengelola pendidikan dasar, mulai tingkat SD sampai SMU dan sangat menekankan pada penguasaan sains. Sekolah ini adalah salah satu sekolah yang dikelola oleh para pengelola yang terinspirasi oleh ide-ide pendidikan Fethullah Gulen (Gulen Movement). Mottonya adalahCompeting in the World for Turkey. Tujuannya jelas, mendidik generasi muda Turki agar menguasai ilmu pengetahuan dan mampu bersaing di dunia internasional.  Muridnya sekitar 500 orang dan semua diasramakan. Sayang sekali, ketika kami berkunjung ke sana, sekolah ini sedang libur musim panas sehingga kami tidak melihat aktivitas siswa. Kami hanya sempat melihat sejumlah siswa sedang belajar mempersiapkan diri untuk ikut kompetisi olimpiade sains.

            
Berbincang santai dengan para pengelola Fatih Koleji

Sekolah ini mirip pesantren di Indonesia, murid-murid diasramakan dan mendapat perhatian sepenuhnya dari pengelola, misalnya gedung sekolah yang amat luas dan modern,asrama yang sangat menyenangkan dilengkapi dengan fasilitas kesehatan, fasilitas perpustakaan yang lengkap, fasilitas laboratorium fisika dan biologi yang canggih, fasilitas ibadah yang nyaman, ruang makan, fasilitas olah raga, dan juga fasilitas untuk mengembangkan bakat seni.Murid-murid dipantau sedemikian rupa, dikembangkan bakat dan minatnya dan didorong untuk mengikuti berbagai perlombaan tingkat dunia, khususnya dalam bidang sains.
Sejak berdirinya, 20 tahun lalu. Para alumni sekolah ini menjadi mahasiswa teladan di banyak universitas terkenal di Turki dan juga memenangkan berbagai perlombaan bergengsi di ajang olimpiade sains tingkat dunia.
Sebelum meninggalkan Fatih Koleji, Prof. Toety sempat memainkan piano di ruang kesenian


Diyanet Isleri Baskanligi

          Ketiga, mengunjungi Departemen Agama Turki (Diyanet Isleri Baskanligi dalam bahasa Turki) atau The Presidency of Religious Affairs yang berlokasi di Ankara. Institusi ini mirip Kementerian Agama Indonesia. Di lembaga ini, kami mengunjungi dua direktorat, yaituDirectorate of Foreign Relations (Direktorat Bidang Hubungan Luar Negeri) dan mengunjungi Directorate of Educational Services  (Direktorat Bidang Penyelenggaraan Pendidikan).

Directorate of Foreign Relations
Kunjungan ke Directorate of Foreign Relations (Direktorat Bidang Hubungan Luar Negeri) kami diterima langsung oleh Dirjen, Prof. Dr. Mehmet Pacaci. Beliau menjelaskan banyak hal terkait tugas lembaga yang dipimpinnya. Intinya, tugas lembaga ini meliputi 4 hal pokok, yakni kegiatan pendidikan agama, pelayanan keagamaan, kegiatan pengembangan dan publikasi dan kegiatan penelitian. Khusus terkait direktorat yang dipimpinnya, yaitu bidang hubungan luar negeri, lembaga ini mengurusi terutama para imigran Turki yang jumlahnya lebih dari sepuluh juta orang, kebanyakan mereka berada di negara-negara Eropa, seperti Belanda,Denmark, Swiss, Jerman, Austria, Perancis, Spanyol dan Italia.


Di ruangan Prof. Dr. Mehmet Pacaci, didampingi penterjemah dari KBRI Turki, mbak Lita

Lembaga ini bertugas memenuhi dan  memfasilitasi kebutuhan umat Islam Turki yang berada di luar negeri, baik terkait urusan ibadah dengan menyiapkan tenaga imam dan khatib serta guru-guru agama buat masyarakat tersebut, maupun terkait urusan di luar ibadah, seperti urusan makanan halal dan pendidikan keagamaan buat anak-anak merekaDi sampng itu, juga berupaya membangun dialog agama (religious dialogue) dengan pihak-pihak luar demi ikut serta menjaga perdamaian dunia.



Untuk kegiatan pendidikan, lembaga ini mengutamakan pembentukan kursus Al-Qur’an, bukan hanya agar masyarakat Muslim Turki dapat membaca Al-Qur’an dengan fasih, melainkan juga diharapkan mampu memahami maknanya dan pada gilirannya nanti mampu mengimplementasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan mereka sebagai warga negara Turki yang Muslim. Untuk itu lembaga ini mendirikan ribuan tempat-tempat kursus baca-tulis Al-Qur’an. Kursus ini dilengkapi dengan modul pengajaran yang canggih dan para guru yang berpengalaman.
Sejak tahun 2014, lembaga ini  membuka program khusus membaca Al-Qur’an bagi kelompok difabel, khususnya Tuna netra dan Tuna rungu dengan biaya negara sepenuhnya, pembelajaran ini dibuat dengan metodologi yang canggih, bagi tuna-rungu menggunakan buku dengan huruf braille dan video. Untuk tuna-rungu telah diciptakan 900 model isyarat. Dengan demikian semua kelompok, khususnya difable yang selama ini termarjinalkan, kini terbuka aksesnya untuk belajar Al-Qur’an. Selain itu, lembaga ini juga membuat program hafal Al-Qur’an, saat ini tercatat sekitar 120.000 orang penghapal Al-Qur’an dari berbagai penjuru Turki.

Directorate of Educational Services
Berikutnya, kunjungan ke Directorate of Educational Services  (Direktorat Bidang Penyelenggaraan Pendidikan), kami diterima oleh Prof. Dr. Ali Erbas, sebagai General Manager.Di samping mengurusi bidang pendidikan, direktorat ini juga mengurusi bidang pelayanankeagamaan dalam bentuk menyiapkan para imam dan khatib yang akan disebarkan ke semua masjid di berbagai wilayah Turki dan luar Turki. Untuk Turki saja disebutkan ada sekitar 90.000 masjid dan semua kebutuhan akan imam dan khatib tersebut disuplay oleh lembaga ini. Saat ini tercatat sebanyak 130.000 petugas imam, khatib dan muazzin yang mereka punyai. Di Turki, semua imam, khatib dan petugas keagamaan lainnya harus melalui suatu pendidikan resmi.Seseorang tidak boleh tampil begitu saja di masjid atau lembaga keagamaan lainnya tanpa sertifikat resmi dari pemerintah.

Berdiskusi dengan Prof. Dr. Ali Erbas beserta sejumlah pejabat senior

Untuk itu, direktorat ini menyelenggarakan pendidikan khusus untuk menghasilkan lulusan yang kelak akan bertugas sebagai imam dan khatib di berbagai masjid di Turki atau di luar Turki melayani umat Islam di sana. Pendidikan bagi imam dan Khatib dimulai dari sekolah  setingkat Madrasah Tsanawiyah, lalu Madrasah Aliyah, kemudian masuk Fakultas Ilahiyat selama 4 tahun (S1). Setelah itu, mereka harus mengikuti kursus lagi selama 3 bulan untuk selanjutnya ditempatkan di masjid tertentu. Jadi, pendidikan para imam dan khatib sangat jelas dan sistemik. Adapun bagi mereka yang akan menjadi mufti diperlukan pendidikan lanjutan berupa kursus selama 3 tahun atau 36 bulan atau setara dengan S3. Semua imam, khatib dan mufti adalah PNS, mereka adalah organ pemerintah dan harus menyuarakan kebijakan pemerintah yang menganut mazhab Hanafi.

  

Berfoto di depan Direktorat Bidang Penyelenggaraan Pendidikan

Pendidikan bagi imam dan khatib ini penting bagi Turki untuk memastikan agar para imam dan khatib hanya menyuarakan pesan-pesan keagamaan yang sejuk, damai dan kompatibel dengan prinsip-prinsip Turki yang demokratis. Sekaligus, merupakan upaya untuk menghadang munculnya pemahaman keagamaan yang ekslusif dan radikal yang membahayakan ketenteraman dan kedamaian masyarakat.
Menarik digarisbawahi, bahwa meskipun Turki menyebut diri sebagai negara sekuler, namun negara tetap melakukan intervensi membuat berbagai regulasi agama yang tujuannya adalah memberikan proteksi dan perlindungan kepada warga negara. Masyarakat Turki 98%adalah Muslim. Muslim Sunni yang bermadzhab Hanafi. Regulasi tersebut dibuat bukan untuk membatasi dan mengungkung hak dan kebebasan warga, melainkan sepenuhnya untuk kemaslahatan dan kedamaian hidup seluruh warga Turki. Hal ini diperlukan agar masyarakat terhindar dari segala bentuk eksploitasi dan kekerasan yang mengatasnamakan agama.Pemerintah berhak melindung warganya dari semua bentuk kesewenangan yang mungkin dilakukan oleh siapa pun dengan mengatasnamakan agama atau Tuhan.

Turkiye Diyanet Vakfi
Keempat, mengunjungi Turkiye Diyanet Vakfi (Turki Religious Foundation). Institusi ini berdiri tahun 1975 dan bergerak di bidang pemberian bantuan kemanusiaan kepada korban bencana alam(semacam lembaga philantrophy). Kami diterima langsung oleh Mazhar Bilgin, pimpinan Turkiye Diyanet Vakfi. Acara dimulai dengan santap siang bersama, lalu penjelasan tentang visi-misi organisasi dan berbagai kegiatan penting yang telah dilakukan organisasi ini di Turki sejak berdirinya.


Suasana diskusi di kantor Turkiye Diyanet Vakfi sambil makan siang

Lembaga ini bekerja sama dengan berbagai lembaga funding lainnya yang memiliki konsen yang sama untuk kemanusiaan. Gerakan pemberian bantuan selama ini lebih banyak diarahkan ke negara-negara Afrika, ada juga ke beberapa negara di Asia, seperti Indonesia.Mereka juga aktif terlibat dalam penganggulangan bencana tsunami di Aceh.
Selain itu, lembaga ini juga ikut aktif dalam mempromosikan dialog keagamaan (religious dialogue), dalam berbagai bentuk kerjasama pendidikan dan kebudayaan untuk menjembatani berbagai kesenjangan yang memungkinkan terjadinya konflik.


Berfoto bersama Mazhar Bilgin, pimpinan Turkiye Diyanet Vakfi dan jajarannyaserta bagian konsuler, KBRI, Ankara (Robertus Irawan)

Ankara Universitesi
Kelima, mengunjungi Fakultas Ilahiyyat, Universitas Ankara. Ini merupakan kunjungan terakhir kami di Ankara, Turki. Universitas Ankara berdiri tahun 1949 dan berkembang sangat pesat. Ada beberapa fakultas ilahiyyat di seluruh wilayah Turki. Fakultas Ilahiyyat, Universitas Ankara memiliki jumlah mahasiswa sekitar 5000 orangSelain memiliki Fakultas Ilahiyat yang melahirkan imam dan khatib serta mufti, universitas Ankara ini juga mengembangkan studi sains dan teknologi. 
Berfoto bersama Dekan Fakultas Ilahiyat di ruang kerja beliau.
Alumni Fakultas Ilahiyat umumnya bekerja di Kementerian Agama atau Diyanet Isleri, baik sebagai pegawai administrasi pemerintahan, maupun sebagai imam, khatib dan mufti.Menarik disebutkan bahwa hampir 70% mahasiswa di fakultas ini adalah perempuan. Namun, kebijakan pemerintah belum dapat mengangkat mereka untuk jabatan sebagai imam, khatib dan mufti. Jabatan-jabatan keagamaan tersebut masih menjadi monopoli kaum laki-laki.



Berdiskusi dengan Dekan Fakultas Ilahiyat, Universitas Ankara

Beberapa isu penting dapat dicatat dari diskusi dengan dekan Fakultas Ilahiyat dan para dosen senior di sana, antara lain sebagai berikut. Pertama, terkait pendirian masjid di Turki, siapa pun boleh mendirikan masjid, tapi petugas imam dan khatib disediakan oleh negara yang tidaklain adalah lulusan dari Fakultas Ilahiyat ini. Kedua, tidak semua lulusan Fakultas Ilahiyat jadi PNS, namun jika mereka berminat jadi PNS, harus ikut seleksi dan lulus dalam seleksi yang berupa tes kepegawaian.  
Fakultas Ilahiyat amat konsen mengajarkan agama yang lapang, agama yang mengedepankan nilai-nilai etika, nilai-nilai humanis dengan cara memberikan kepada para mahasiswa bukan hanya pengajaran agama Islam yang klasik berupa tafsir, hadis dan fikih, melainkan juga membekali mereka dengan pengetahuan sains, filsafat dan seni.
          Pemerintah Turki tampaknya sangat konsen pada upaya membangun pemahaman Islam yang damai, dan berusaha menangkal semua bentuk pemahaman Islam yang intoleran,menggunakan kekerasan dan memicu konflik. Turki agaknya lebih peka dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme berbasis agama yang sekarang menjadi problem besar di berbagai negara. Turki yang sekuler tetap menjadikan nilai-nilai agama sebagai basis penting bagi pembangunan bangsa dan masyarakatnya.

Ucapan terima kasih.
Kunjungan studi budaya di Turki  dapat berjalan lancar berkat bantuan KBRI Ankara, Ibu DubesRI Ibu Nahari Agustini dan Bapak Soegiman yang menyediakan tempat singgah semalam di Wisma Indonesia, dengan jamuan hidangan yang lezat, dan termasuk bantuan staf KBRI ibu Litayang bertindak sebagai penerjemah dari bahasa Turki ke Indonesia dan sebaliknya, serta Bapak Murad dan Sandy yang setia mengantarkan ke tempat-tempat acara. Sedang di Istanbul sejak dari awal rencana kunjungan sampai akhir kunjungan dibantu oleh saudara Budy Sugandi, alumni UIN Sunan Kalijaga, yang sedang kuliah Magister Pendidikan Matematika di Universitas Marmara, Istanbul.

Jakarta, 4 Juli 2014
MM/AA/THNR/in

Sabtu, 05 April 2014

Suara Pemilih di Luar Negeri

Unknown

Dalam hitungan hari, Indonesia akan melaksanakan PEMILU 2014 yaitu PEMILU Anggota Legislatif dan PEMILU Presiden RI. Pesta demokrasi  ini akan dimeriahkan oleh seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) baik yang sedang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk WNI yang sedang berada di luar negeri penyaluran suara akan diberikan melalui Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) yang dibentuk oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sesuai dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum nomor 12 tahun 2013.

Untuk pelaksanaannya, akan dilakukan lebih cepat dari jadwal pemilu dalam negeri (hari libur terdekat) berdasarkan pijakan hukum yang telah disepakati KPU pada UU 8/2012 dan UU 15/2011 dengan tujuan agar partisipasi pemillih meningkat.

WNI yang sedang berada di Luar Negeri memiliki latar belakang yang beragam, ada yang sedang meuntut ilmu, bekerja sampai berkeluarga. Pembatas geografis yang jauh dengan tanah air tidak menjadi halangan untuk mengikuti perkembangan dinamika politik di tanah air. Bahkan bisa dikatakan WNI di luar negeri sangat kritis terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Sebut saja aksi penolakan Kunjungan Kerja DPR ke Jerman oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman yang sempat mencuat beberapa waktu lalu. Para pelajar mempertanyakan urgensi kunjungan rombongan anggota DPR-RI Komisi 1 tersebut yang dianggap tidak efektif dan cenderung menghambur-hamburkan uang negara.

Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi tersebut menyebabkan segala informasi bisa diakses dengan mudah dan cepat. Dunia sosial media juga menjadi alat untuk berkomunikasi baik sekedar untuk bertegur sapa dengan kerabat di tanah air, mencari informasi sampai pada memberikan dukungan kepada preferensi politik masing-masing baik secara malu-malu karena ada rasa tidak enak dengan teman-teman yang berbeda preferensi maupun memberikan dukungan secara terang-terangan.

Saat penulis berdiskusi dengan Suratno Paramadina salah satu kandidat Doktor Political Anthropology & Religion di Goethe Universitat Frankfurt yang juga dosen di Universitas Paramadina ini, beliau menyampaikan bahwa “secara umum perilaku politik di luar negeri tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, bedanya hanya orang-orangnya saja di luar negeri yang jauh dari Indonesia, jadi sosial media sangat menentukan pilihan dan mempengaruhi perilaku politik mereka.  secara umum perilaku pemilih Indonesia di luar negeri juga demokratis, karena mereka bisa belajar dari negara masing-masing dan secara umum memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Jadi mestinya lebih kritis terhadap dinamika yang ada sehingga preferensi politik merek secara umum rasional”.

Acara-acara yang bernuansa diskusi sudah sering dilakukan, baik diskusi dengan menghadirkan pembicara dari masyarakat sekitar maupun memanfaatkan tamu yang datang (peneliti, dosen, dll). Diskusi ini biasanya diselenggarakan oleh pihak KBRI, KJRI, PPI, PCINU atau organisasi dan elemen masyarakat lainnya. Dengan demikian data sekitar 2,25 juta jumlah pemilih di luar negeri yang tersebar di 130 negara di dunia dari Pokja Panitia Pemilihan Umum Luar Negeri (PPLN) ini tidak bisa diremehkan.


@budysugandi
Braunschweig,  Maret 2014

diterbitkan di Harian Surya-Surabaya pada Jumat, 28 Maret 2014: http://surabaya.tribunnews.com/2014/03/28/suara-pemilih-di-luar-negeri